Rabu, 24 November 2010

Seminar Dampak Pemanasan pada Ikan

LIPI
Seminar Dampak Pemanasan pada Ikan

Ilustrasi efek Global Warming
BOGOR, KOMPAS.com - Dampak pemanasan global tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga berpengaruh pada eksistensi fauna ikan.
Berbagai laporan penelitian menyebutkan bahwa pemanasan global mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kondisi ekosistem yang ada.

Permasalahan ini akan dibahas dalam Seminar Nasional Ikan VI dan Kongres Masyarakat Ikhtiologi Indonesia (MII) III yang diselenggarakan selama dua hari Selasa dan Rabu (9/6) bertempat di Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi Pusat Peneliti (P2) Biologi, LIPI, Cibinong Sciece Center (CSC).

Seminar tersebut menghadikan pembicara utama Dr Lyne R Parenti, Kurator ikan di NMNH, Smithsonian Institut, Washington DC, US.

"Dr Lyne adalah ikhtyologist wanita pertama sebagai presiden dari ASIH (Amerika Society for Ichthyology and Herpetology Society) pada tahun 2004-2006, beliau juga anggota national acedemy of sciences US National committe.

Selain Lyne ada juga Dr Gerald R Allen dan Dr Tan Heok Hui yakni kurator ikan di The Raffless Museum," ujar Kepala Laboratorium Ichtiology Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Renny K Hadiaty, Selasa (8/6/2010).

Renny menyebutkan seminar tersebut bertujuan untuk bertukar informasi dan pengetahuan, pengalaman, diskusi dan koreksi atau saran dan koodinasi dalam kegiatan penelitian maupun pengelolaan ikan antara pada pakar, peneliti, praktisi dan pengambil kebijakan demi meningkatkan potensi, pengembangan dan pemanfaatan ikan di Indonesia secara berkelanjutan serta meminimalisasi kepunahan ikan di Indonesia.

Renny mengatakan seminar terbuka untuk umum, para pakar, peneliti, praktisi dan pemerhati ikan yang berasal dari lembaga peneliti, perguruan tinggi, instansi pemerintah terkait, breeder, eksportir ikan hias dan LSM terkait.

Pada seminar tersebut akan dibahas tentang potensi ikan di perairan Indonesia dan bagaimana memanfaatkan dan melindunginya guna meningkatkan potensi sumberdaya ikan untuk menambah devisa negara.

Renny menjelaskan, diperkirakan secara keseluruhan jenis ikan di perairan Indonesia berjumlah 4.000-6.000 jenis.

Jumlah jenis ikan air tawarnya berdasarkan koleksi yang ada di MZB sekitar 1.300 jenis sedangkan di Asia Tenggara yang valid telah diketahui sebanyak 2.917 jenis.

Kekayaan sumberdaya ikan masih sedikit dimanfaatkan, sementara itu, kerusakan ekosistem dan pemanasan global berdampak pada penurunan populasi dan keragaman jenis ikan.

"Bahkan beberapa jenis lainnya masih banyak ditemukan jenis-jenis baru yang belum pernah dilaporkan. Para ahli memperkirakan sekitar 400-600 jenis ikan lainnya dari wilayah Indonesia masih ada tetapi belum ditemukan dan dideskripsikan," kata Renny.

Salah satu solusi untuk menghadapi kendala tersebut kata Renny adalah adanya sarana komunikasi di antara para peneliti dan praktisi pemanfaatan untuk berdiskusi, saling memberikan informasi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.

"Karena itu, seminar ini diselenggarakan. Sehingga diperoleh suatu pembahasan dan solusi yang tepat guna," katanya.

Seminar nasional ini kata Renny dilaksanakan secara reguler oleh MII yang sudah dilaksanakan sebanyak lima kali dan kali ini merupakan kali ke enam.

Diharapkan dari seminar tersebut dapat terbuka pertukaran informasi di antara pada peneliti maupun penentu kebijakan sehingga dapat meningkatkan potensi, pengembangan dan pemanfaatan ikan di Indonesia secara berkelanjutan serta meminimalkan kepunahan ikan di Indonesia.

Editor: hertanto | Sumber :antara

Comments :

0 komentar to “Seminar Dampak Pemanasan pada Ikan”

Poskan Komentar

Laporan FAO

Laporan FAO

Laporan FAO: Industri Penternakan Adalah Penyebab Utama Pemanasan Global

Pernahkah Anda membuka lemari es Anda, menarik keluar dua puluh piring pasta dan membuangnya ke tempat sampah, dan kemudian, hanya makan satu piring makanan? Hal ini sama dengan menebang 55 kaki persegi hutan untuk satu kali makan siang Anda atau membuang 2500 gallon air ke saluran pembuangan. Apakah Anda akan melakukannya? Bagaimanapun juga, hanya makan setengah kilo daging akan mengakibatkan hal-hal tersebut di atas. Makan daging akan menyebabkan pengrusakan terhadap sumber alam dan lingkungan kita, menyebabkan penderitaan hewan yang besar, serta memberikan efek-efek merusak bagi kesehatan kita. Jadi, dengan memanggang seekor anjing untuk disajikan bersama kentang dapat membuat Anda muak, tetapi mengapa kita malah memanggang hewan yang jinak lainnya? Selengkapnya

Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca

Ditulis oleh Muhammad Ashadi

Jika bumi terus menerus menerima energi dari matahari , anda mungkin terheran-heran mengapa bumi tidak bertambah panas atau mengapa temperature rata-ratanya tidak naik. Untuk mempertahankan temperature rata-rata yang relative konstan dalam jangka waktu yang lama, bumi harus membebaskan energi yang pada rata-ratanya sama dengan jumlah energi yang diterimanya dari matahari. Hal ini dilaksanakan dengan pemancaran kembali energi ke angkasa luar dengan bantuan atmosphere. Dimana pengaruh-pengaruh atmosphere sangat penting untuk mempertahankan variasi temperature harian bumi yang besar. Di bulan, yang tidak memiliki atmosphere, temperature hariannya bervariasi antara 1000C pada siang hari atau sisi matahari, sampai -1730C pada sisi gelapnya.

Radiasi sinar matahari yang datang memanaskan atmosphere dan permukaan bumi, dan bumi yang panas itu memancarkan kembali energi dalam bentuk pancaran infra merah yang tidak tampak. Gas-gas dari atmosphere terutama uap air dan karbon dioksida (CO2) adalah penyerap-penyerap yang selektif (memilah-milah), yakni uap air dan karbondioksida tersebut membiarkan cahaya matahari yang tampak melewatinya tapi mereka menyerap atau memerangkap radiasi infra merah tertentu. Penyerapan atmosphere ini membantu untuk menahan energi panas bumi, sehingga bumi tidak mengalami temperature naik turun seperti di bulan.

Awan (uap air) juga membantu mempertahankankan panas bumi. Oleh karena itu, gas-gas atmosphere mempunyai efek termostatik untuk mempertahankan variasi temperature harian dan kita menyebut proses ini efek rumah kaca. Kaca mempunyai sifat-sifat yang bersamaan dengan gas atmosphere (uap air dan CO2). Sebagaimana digunakan pada greenhouse, kaca membolehkan sinar matahari tampak melewatinya dan kemudian menghalangi atau memerangkap radiasi infra merah. Sebenarnya dalam kasus ini, terjadinya panas itu utamanya terjadi karena penahanan dari pemantulan (pelepasan) panas yang dilepas oleh tanah yang ada di dalam ruangan yang dipenuhi kaca itu.temperatur rumah kaca pada musim panas dikendalikan dengan mengecat panel dari kaca itu menjadi putih yang mereflleksikan sinar matahari dan membuka panel untuk membiarkan udara panas itu lepas.

Interior dari rumah kaca yang tertutup ini sungguh panas, bahkan pada hari yang dingin. Anda barangkali telah mengalami efek rumah kaca di dalam mobil pada hari yang cerah dan didngin. Efek rumah kaca juga dapat terjadi karena menipisnya lapisan ozon yang diakibatkan oleh CFC (cloro floro carbon) yang ada pada lemari es dan AC, polusi udara yang tidak terkendali dan tidak terolahnya sampah anorganik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Untuk mencegah efek rumah kaca dalam kasus ini, kita harus bamyak menanam pepohonan untuk menggantikan ozon yang telah bereaksi dengan CFC dan menjaga agar polusi udara dan pengolahan sampah dapat dikendalikan dengan sebaik mungkin.

Go Green

Go Green Dengan Energi Nuklir

Selain krisis ekonomi dan energi, pemanasan global (global warming) adalah problem nyata yang harus dihadapi dunia sejak awal abad 21 ini. Nuklir sebagai sumber energi yang sedikit mengeluarkan gas rumah kaca bisa menjadi salah satu pilihan dalam upaya kita menghadapi pemanasan global. Meski begitu aspek keamanan dan keselamatan bagi masyarakat dan lingkungan tetap harus menjadi prioritas utama.

Pengurangan emisi CO2, salah satu jenis gas rumah kaca penyebab pemanasan global adalah merupakan tantangan utama peradaban modern. Efisiensi penggunaan energi, pengurangan eskploitasi energi fosil (batubara, minyak dan gas) dan optimalisasi energi baru terbarukan merupakan langkah nyata yang harus kita lakukan bersama. Selengkapnya

Bunga Tulib, Lukisan

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by Info Global Warming

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger